“Mindset” – sang Elang

Once upon a time, lahirlah seekor bayi elang, sayangnya mendung berpihak padanya, ia harus hidup bersama keluarga ayam. Berhari-hari dilaluinya hidup dengan mama ayam dan adik – adik ayam,. Ikut makan dengan mengais makanan, terbang jarak pendek ala ayam, pokoknya seekor elang yang bener-bener jadi the chicken… kotek kotek…

Suatu hari, ia melihat burung elang terbang gagah di angkasa, ia bertanya pada adik ayam, “dik, siapakah dia yang terbang menawan dengan kepakan sayap emas itu?” lalu sang ayam menjawab pada kakak elang yang hidup bersamanya “kak, sudahlah, jangan mimpi bisa seperti elang perkasa itu”. Sang Elang yang tersesat hidup itu hanya mengangguk-angguk. Dan akhirnya???

At the end, hingga hari tuanya, sang elang mati dengan kehidupan ayamnya.

***

            “Jika mindset mu dari awal aku akan mati sia-sia, lalu kamu berdiam diri saja, selamanya kamu akan benar-benar menjadi orang yang sia-sia!”

Let’s we check Al-qur’an surat Al-Baqarah ayat 243:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

  1. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; Maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”[154], kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.

[154] Sebahagian ahli tafsir (seperti Al-Thabari dan Ibnu Katsir) mengartikan mati di sini dengan mati yang sebenarnya; sedangkan sebahagian ahli tafsir yang lain mengartikannya dengan mati semangat.

You know what? Apa hubungannya Elang? Dan Mati? Dalam ayat ini???

Karena sang elang yang sejak ia lahir dibentuk dengan kehidupan ayam, dan gagal untuk merubah mindsetnya saat melihat elang yang lain, tetap kekeh hingga akhir hayatnya menjadi elang kotek kotek.

Begitu analoginya kawan, dan apa filosofinya? Jelas dalam ayat itu, Allah udah suruh keluar dari kampung halaman, terus kalau kamu fikir kamu akan mati dan kamu nggak jadi berangkat, so what? Beneran mati lo! Dengan lo berdiam diri!!!

Tapi gimana kalau dari awal mindsetnya udah semangat, “pokoknya hidup atau mati, aku akan maju”. Kebayang kan, walaupun akhirnya kita mati, kita mati setelah berjuang. Nggak mati sia-sia. Dan nilainya itu, unpriceable! What a treasure!

#the corn of Kuliah Iftitah 2017/2018 by Ust Yogi Syafril, illustrated by me. 12 Jul. 17.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s