Surat Cinta Untuk Papa

SURAT CINTA UNTUK PAPA

Surat ini ditulis dengan segenap hati di hari terakhir November 2016,

Dari Uni, Kakak, Abang, dan Dek…

*Surat dari Kakak (anak ke dua)

Abak….

Takkan pernah habis kata rindu terbesit dihati ini.

Waktu memang terus berlalu,tapi dirimu takkan hilang dari ingatan..

Malam ini tepat seperti malam 3thn lalu,,malam dimana aq tak bida bicara banyak karna sakit yang engkau tahan. Aq merasa buruk saat tak ada disampingmu utk menjadi peredam sakitmu walaupun sedikit.. Sampai saat ini pun hal itu menjadi penyesalan.

Bak , masih tak bisa ku percaya .

Diam mu yg ku kira sebuah kemarahan namun itu semua karna pikiranmu tertuang utk kami semua.. Engkau tahan dan pendam sendiri.. Hingga tiba saat terakhir dan semua tugasmu selesai.

Pa,3thn lalu aq kira engkau akan bangun saat aq melangkah memasuki rumah..bodohnya aq pa,aq berpikir papa hanya tidur tuk menghilangkan sejenak rasa sakit itu. Seperti anak2 aq berpikir papa akan terbangun saat aq memanggil.

Masih teringat jelas ,kami semua tergeletak lemas berteman lamunan kosong pagi itu. Duduk berdampingan bersama ,menepis dan menyangkal bahwa semua hanya mimpi.namun yg kami dapat hanya sapaan ambil lalu yg menyadarkan itu semua nyata..

Pa,tak bisa aq bohongi diri ini yg selalu iri melihat seorang ayah yg mesra bersama putra putrinya,aq kesal mengapa begitu cepat aq kehilangan sosok mu.

Pa,tak jarang aq melihat mama bersedih karna tak kuat menopang dan mendayung perahu sendiri,,tapi ia selalu berlagak kuat di depan kami.

Kamipun tak ingin terlihat sedih didepannya pa,tapi terkadang kami gagal membuatnya tertawa.

Pa,teruslah hadir dalam mimpiku.biarkan aq bercerita dan memelukmu dg erat walaupun bukan didunia nyata.

Pa,begitu banyak hal yg ingin ku sampaikan,namun hanya air mata yg bisa melukiskannya..

Pa.. Pa…

Anak gadismu tlah beranjak dewasa.. Banyaaaak sekali hal baru yg aq temui tiap harinya.

Kadang aq terpana,heran kenapa semua terasa berbeda..tak seperti dulu,kecil mungil penuh canda tawa tanpa memikirkan apa2.

Pa,andaikan engkau membaca goresan ku ini..aq sangat ingin bertemu pa.. I miss u so much.. Taragak bak cando tarikan magnet nan kuaik, bak cando sayua ndak bagaram rasonyo pa…

Pa,we always love u

*Surat dari Cimit (Si bungsu)

Pa,apa kabar? Semoga papa di alam sana bisa tersenyun seperti senyum papa yg pernah kulihat dimasa masa sulit dulu,senyuman yg merangkum iklas,sabar,dan optimis yang selalu mampu membuatku bahagia.semoga allah senantiasa melimpahkan cinta dan kasih sayangnya melebihi limpahan cinta ayah yg mengisi setiap lembar hidupku,amin.atas nama sayang dan cinta kutuliskan catatan ini,satu dari sekian byknya catatan tentangmu pa yg slalu ingin ku kirim ke alam sana,tempat engkau sekarang pa,setiap catatan adalah lukisa peristiwa dan luapan yg berbukit bukit tentang rindu yg luar biasa dr seorang anak utk papa tercinta.ayah,menyebut namamu,memenuhi rongga tubuhku dgn getaran,jutaan getaran yg timbul oleh perasaan yg berbeda ,menyatu membuatku terpaku dalam kerinduan,rindu pada segala hal tentangmu pa.tak ada kata yg bisa ju ucapkan selain kata kata rindu,rasa itu mengguncang dlm dada,setiap hari kucoba menitipkan rasa itu lewat doa doa panjangnyaku,kuharap papa bisa merasakannya.ketika pucuk pucuk daun teh telah menjadi pangkal bagi batangnya,ketika saya telah lelah menjelajahi dunia ini dan ketika aroma tanah basah telah hlg,mejadu untaian cinta dan sayang…barulah aku sadar sudah tiga tahun,tiga tahun aku jauh dari ayah,tiga tahun aku lepas sepertu kapas,dan tiga tahun aku mencoba tetap tegar menghadapi segala persoalan hidup,mencari setiap solusi yg dibutuhkan sendiri.bukan waktu yg singkat untuk sebuah perasaan kehilangan,dan bukan waktu yg terlalu lama utk tahapan dewasa.entahlah,baru sekarang aku sadar betapa diri inu sangat rindu,rindu pada setiap canda tawa yg kau berikan,setiap masukan yg kau berikan,setiap semangat yg kau berikan…itu yg membuat diriku rindu pa.aku cuma berharap suatu saat nanti kita semua bisa berkumpul bersama seperti sedia kala…salam buat papa dari anak tercinta…i love you papa

*Surat dari Uni (Si sulung)

30 November 2016, 3 tahun berlalu tanpamu pa. Mungkin jika ingin mengenang, malam ini Uni sedang berada dalam bus, bergegas ingin segera menemuimu pulang saat engkau terkabar sakit. Masih jelas dalam genggaman rasanya, satu kardus susu beruang yang senagaja uni pack dari Palembang, walau di Lubuk Sikaping juga ada yang menjual. Tapi rasanya lega saat bisa membawakanmu pulang. Berharap susu ini bisa menambah tenagamu dia sela nafasmu yang kian sesak.

Hhhhh… sedang tak ingin membahas 30 November 2013 silam. Pagi ini, sebelum Desember menyapa dan beralih pada 212, Uni hanya ingin bercerita tentang apa yang terjadi hari ini.

Ditemani rinai beribu tetes, anakmu mengayuh sepeda putaran demi putaran. Begitu semangat bersama reruntuhan gerimis ini, hingga becek berisi lumpur, genangan banjir yang muntah dari mulut comberan, menjadi tidak begitu berarti pagi ini. Entah mengapa… pagi ini anakmu bahagia pa!

Tapi berhubung, tulang punggung ini tak bisa berbohong dengan sakitnya. Akhirnya Uni putuskan memutar balik sepeda dan parkir di ruang tamu lagi. Tanpa pikir panjang, rasanya pagi ini lebih memilih gojek sebagai kereta kencana menuju sekolah. Tapi baru beberapa langkah berjalan, ternyata ada tumpangan gratis dari Orang tua siswa tempat uni mengajar pa. ๐Ÿ™‚ tersenyumlah pa, anakmu ada yang mengantarkan pagi ini.

Sesampai di pintu pagar, senyum dan sapa para sahabat yang sama mengajar di sekolah pun menyambut haru dan penuh semangat. Setelah bergegas menaiki lantai dua, ada sahabat yang memberikan sarapan pagi. ๐Ÿ™‚ pa tersenyumlah, pagi ini anakmu tidak terlambat sarapan dan tidak akan kambuh maag.

Empat jam mengajar, akhirnya bel pun berbunyi, menandakan jam pelajaran selanjutnya. Dan lagi-lagi, badan lelah ditemani matahari yang merangkak siang ini merasakan kantuk yang dahsyat. ๐Ÿ™‚ pa tersenyumlah, pagi ini disela kesibukan, anakmu masih bisa megistirahatkan badan yang semakin ringkih, 15 menit sudah lebih dari cukup.

Hari ini begitu full-ceria. Jauh dari ekspektasi, uni fikir hari ini akan ada tsunami dari dua bola mata mengenang tiga tahun lalu, di hari kepergian mu, ternyata tidak! Hari ini penuh semangat pa, entah dari fisik maupun psikis. ๐Ÿ™‚ tersenyumlah pa, hari ini anakmu kuat sepanjang hari.

Teeenggg… 16.00 waktunya pulang ke rumah, lagi bersama hujan sore. Allah mengirimkan kereta kencana melalui tangan kepala sekolah, beliau rela memutar arah dan mengantarkan anakmu pulang ke rumah sore ini pa. Dan pulangnya dapat free-nasi padang dari beliau. ๐Ÿ™‚ pa tersenyumlah, anakmu hari ini ada yang mengantar pulang dan mentraktir makan malam.

Penat dan letih hari ini, seolah tersapu oleh sambutan hangat anak-anak sesampai di rumah. Hmmm… wangiiiii…. mereka bawakan mangga untuk uni pa. Dan terkejut sekali saat masuk dapur, piring piring sudah bersih dicuci oleh mereka. ๐Ÿ™‚ tersenyumlah pa, sungguh anakmu tidak sendiri di sini.

Pa… lihatlah… ada apa hari ini??? Seolah Allah datang kepada uni hari ini dan berkata, โ€œbahwa Aku yang akan menjami kehidupan anak yatimโ€ … (Doa terbaik untuk yang telah menjadi wasilah Allah hari ini)

Pa… tersenyumlah… ๐Ÿ™‚ tak apa jika tulang punggung ini engkau hibahkan sementara, uni kuat… semoga tulung punggung yang engkau bawa ke sana, akan menemanimu menuju salah satu alur dari taman surga. Aamiin. ๐Ÿ™‚

*Surat dari Uda (anak ke tiga)

โ€œBagi Ben, cukup hanya dengan mengenang saja, pa…โ€ (sambil terlarut dalam lamunan panjang)

ย kami baik-baik saja pa, mama pun… semoga… ๐Ÿ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s