Selamat Hari Guru

SELAMAT HARI GURU

Hari ini, 25 November 2016.

Tadi tiba-tiba dikejutkan oleh seorang mama muda, langsung memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan, seraya berkata “selamat hari guru bunda”.

Satu tahun berselang, saya mencoba menyelam ke dasar lautan, bernama lautan SD kelas 1. Setelah sebelumnya berkelana dari bimbel ke bimbel. Menemui satu bahkan seribu rupa anak. Belajar menjadi teman bagi mereka. Yaaaaa orang-orang menyebut ini adalah “profesi guru”. Tapi jauh ke dalam makna guru bagi saya adalah, “teman bagi mereka”.

Saya fikir, detik ini pamor guru telah disaingi oleh popularitas Kyai Google. Bahkan tak menyangkal, bahan-bahan ajarpun sering dirampok dari brankas Beliau (baca google). Tapi masak iya engkau yang telah menjadi guru bisa kalah sama google? Yakin rela??? hehehee. Janganlah!!! Karena google bisa memberi apapun kecuali “taste”. Rasa… nananananaa…

Jujur, jika hanya menyampaikan materi ajar alias mengajar, lagi-lagi google pun juga bisa. Namun, jika ditanya soal mendidik? Apa google bisa jadi juaranya? Apa google pantas untuk dijadikan teman???

Sepanjang jalan kenangan…. lalalalalalalalala 😀 Saya menemukan arti guru yang sesungguhnya:

  1. Guru Kijang begaut

Tiga bulan berada di pedalaman Lahat, Desa Talang Pagar Agung, Sumatera Selatan. Belajar banyak dari mereka yang hidup di tengah-tengah kebun kopi. Cara hidup yang seolah nomaden modern, betapa tidak? Mereka hidup di rumah panggung, gubuk gubuk kayu dengan tonggak tinggi yang hanya banyak ditinggali jika musim panen kopi tiba, biasanya mulai bulan Juli. Malam itu saya terkesima dengan seorang kakek, saat kami sama belajar bagaimana menyebutkan huruf hijaiyah dengan fasih, satu per satu. A mulutnya dibuka seperti kucing menguap. Hingga tiba di huruf kho. Sambil mengeluarkan gigi ompong si kakek bilang, “nak, huruf kho itu seperti bunyi kijang begaut”. Beliaupun mencobakannya. Spontan semua bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak yang ada dalam masjid tertawa dan kemudian mencobakannya. Bahkan saya yang sebelumnya tidak tau persis, apa bunyi kijang begaut malah ikut-ikutan. Haha.. fun learning.

Bahwa belajar dari yang tua-tua dari kita, ilmunya lebih mengena. Mereka yang sudah banyak makan asam garam kehidupan lebih bisa memberikan analogi dan pemaparan yang real sesuai dengan realita yang ada. Nenek sudaaah tuaaa, giginya tinggaaal duaaa, la la la la la la la la… nenek banyak ilmunyaaaaa 😀

hari guru 3.JPG

  1. Guru Gue Elo

Saya ingin berterimakasih kepada perjalanan panjang Palembang-Muara Enim yang telah membawa saya memasuki hutan pedalaman desa Talang Rambang. Sebuah desa yang diapit pohon-pohon karet nan eksotis. Bertemu dengan para pengajar yang rela menjual waktu, tenaga dan hartanya demi “masa depan anak-anak bangsa” tanpa janji manis uang. Para pengajar muda yang datang dari seluruh penjuru Nusantara dan mengabdi di desa terpencil. Jangan tanya umur, masih darah segar semua, 20-an ke atas, tapi semangat mendidiknya lebih dari gulungan ombak di Pantai Selatan… hehehe

Hari itu, materi yang harus diajarkan adalah tentang “bagaimana cara mempertahankan hak milik”. Anda bisa membayangkan aksi 4 November untuk membela al-qur’an 😀 . Begitulah, anak muda dari berbagai komunitas dan semua anak-anak bergabung untuk mempertahankan sebatang lilin yang ada di genggaman. Bertahan dari serangan-serangan bom air. Hehe… fun learning.

Yang muda yang bergairah. Bahwa belajar dari yang lebih muda, ilmunya lebih up to date. Kekinian dan sesuai perkembangan zaman siiieeehh katanya 😀 ancang-ancang mau ngalahin google 😀 wkwk Gue_elo guru kece…! (y)

hari guru 1.JPG

3. Guru cabe rawit

Dan yang terakhir, kejadian demi kejadian yang berhasil meneteskan air mata selama perantauan 5 lima tahun di Negri Sriwijaya. Seorang putih, kecil, mungil, memegang pipi saya dengan kedua tangannya “bunda capek ya? Sini aku aja yang kerjain”. Satu kalimat ini benar-benar mengajarkan saya, untuk tetap tegar. Bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan kita sendiri dalam ujian kehidupan. Sungguh! saya belajar kuat dari si kecil.

Lalu, di sudut lain, sambil nyengir ngeluarin gigi yang hitam-hitam, “bunda, hari ini abang bahagia”. Langsung tersenyum lebar melihatnya. Seolah menghapus airmata yang turun dari semalam.

Bahwa belajar dari yang lebih kecil, dengan kecerewetan mereka yang tulus, walau bagai cabe rawit, tapi mereka begitu jujur, polos, dan jauh dari kemunafikan. Ahhh… sesuatu…

Untukmu para guru

Selamat hari guru

Tak peduli engkau tua, muda atau kecil dariku

Terimakasih untukmu

Bagi yang sepertiku, para fakir dan musafir ilmu

Guru bukan profesi semata walau dari dulu

Adalah ia teman nyata tanpa semu

 Rehelmi, Palembang, 25 November 2016. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s